Rabu, 23 September 2009

Menjadi Apapun Dirimu, Kawan

Menjadi Karang-lah meski tak mudah. Sebab ia akan menahan sengat sinar mentari yang garang, sebab ia akan halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia akan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang mencoba membekukan. Sebab ia akan menahan hempasan badai yang datang menggerus terus menerus dan mencoba melemahkan keteguhannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi Pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tak mudah. Sebab ia akan tetap tegar meski bara mentari terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang menerpa kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan gegap gempita hujan yang coba meruntuhkan. Sebab ia akan senantiasa memberikan buah-buahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singga di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.

Menjadi paus-lah, meski tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudra. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diammnya akan membuat tenang laut dan seisinya.

Menjadi Elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itupun tak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa rasa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab is kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi anggin dengan tubuh mungilnya. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dalam samudra yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupu-lah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia kan lalui semedi panjang tanpa rasa bosan, sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang mengenyangkan hingga kemudian tiba saat keluar.

Karang akan hadapi ujian, terik sinar matahari, badai, juga gelombang.

Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya.

Paus akan menggetarkan samudra hanya dengan sedikit gerakan.

Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi.

Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga lain dengan segala kecantikannya.

Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan.

Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya dari kiri, kanan, depan dan belakangnya.

Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentangan cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudra. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hapai seribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar, kupu-kupu atau apapun yang kau mau. Tetapi tetaplah sadari kehambaanmu....

(Suatu intropeksi diri, maka bercerminlah kembali Saudaraku....)

Sumber : Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar